Monday, 17 June 2013

PROSES PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI DALAM ENAM MASA:



بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبعد!
Al-Quran dan Teleskop SKA:

Penulis telah mengamati dengan seksama apa yang telah dikemukakan oleh para pakar astronomi tentang fakta cosmos raya (universe), dan telah merenungkan pula apa yang telah diungkapkan al-Quran – semenjak 15 abad lalu – tentang fenomena yang sama, maka penulis mendapatkan adanya kecocokan persepsi di antara keduanya, tanpa berusaha menselarasikan pengertian konteks al-Quran pada apa yang tidak sesuai makna dan penafsiran.



Pengertian universe (alam semesta) sebagaimana yang didefinisikan oleh astronomi mencakup segala apa yang dapat kita lihat dari partikel yang terdekat hingga ke galaksi yang paling jauh, namun manusia tidak sanggup melihat lebih dari pada apa yang telah dicapai oleh teleskop digital yang ada sekarang. Berbeda dengan al-Quran yang telah menggambarkan kepada kita dengan pasti dan detail, tidak ada kekurangan dan kekeliruan tentang alam semesta, yang jauh lebih luas dari pada apa yang telah dibayangkan oleh astronomi dunia.

Al-Quran sangat akurat dalam mendefinisikan alam semesta, ia tidak menyebutkan alam semesta tanpa memberi perincian atau definisi yang kongkrit, seperti menyebutkan langit, bintang, rasi bintang, bumi dan seterusnya dari sebutan-sebutan yang terperinci. Lain halnya dengan sains modern yang mendefinisikan alam semesta tidak cermat, karena kita tidak dapat menyimpulkan dari definisi yang disebutkannya, apakah yang dimaksud itu keseluruhan (yang nampak dan yang tidak nampak), jika demikian maka pengertian itu terlalu luas dan tidak terperinci, dan jika yang dimaksudkan definisi cosmos adalah galaksi-galaksi, bintang-bintang dan segala sesuatu yang dapat dilihat, lalu bagaimana dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat?

Oleh karena itu al-Quran telah mendefinisikan kepada kita segala fenomena yang ada di dalam alam semesta ini, misalnya bintang, bumi, matahari, bulan dan seterusnya, selain itu ada lagi sebutan langit. Orang yang mencermati ayat-ayat al-Quran ia pasti dengan mudah dapat menyimpulkan bahwasanya langit dunia adalah yang terbentang mulai dari atmosfer (lapisan udara terdekat) yang meliputi bumi sampai kepada galaksi yang paling jauh dijangkau teleskop digital sekarang.

Ini artinya bahwa cosmos yang dikaji oleh sains modern tidak lain adalah “langit dunia (langit pertama) plus bumi”, yaitu langit yang meliputi bumi dari berbagai sisinya yang terbentang luas sampai kepada galaksi yang paling jauh yang dapat di amati, karena Allah SWT menghiasi langit dunia (langit pertama), dan yang paling dekat ke kita dengan bintang-bintang dan galaksi-galaksi. (Insya Allah akan kita bahas nanti).

Langit dunia atau langit pertama ini masih diliputi lagi oleh enam langit yang lain, tersusun bertingkat-tingkat satu sama lain, (kita akan bahas pada tema: “Tujuh Susun Langit”. Insya Allah). Jadi yang kita kenal selama ini sebagai universe (alam semesta) adalah langit pertama saja, adapun sisa langit yang tujuh susun itu belum dapat dideteksi oleh sains hingga kini.

Penulis yakin bahwa ketujuh langit itu termasuk langit dunia yang belum semuanya terungkap, suatu saat nanti sejalan dengan perkembangan sains modern, pasti akan tersingkap semua satu persatu dari tujuh langit tersebut, karena langit-langit itu sejenis dengan langit kita, tersusun bersamanaya dan berada di sekitar langit kita.

Namun karena langit-langit itu terlalu jauh dari langit kita, dan masih terbatasnya capaian sains sehingga belum terdeteksi hingga abad ke-21 kini. Menurut sumber yang ada bahwa pada tahun 2019 nanti, akan hadir di bumi ini sebuah teleskop radio terbesar di dunia bernama “Squar Kilometre Array (SKA)”.

Kapasitasnya 50 kali lebih besar dari pada teleskop yang ada saat ini, yang diproyeksikan terdiri dari 3000 antena yang membentang pada zona sepanjang 5500 Km. Semua informasi yang diterima teleskop masa depan ini akan ditransfer dengan kecepatan 100 TB per-detik, selanjutnya akan diproses di sebuah “supercomputer” yang mampu bekerja dengan kecepatan 1 juta juta juta MB/ detik, atau 1 Exabyte. Mudah-mudahan dengan kehadiran proyek SKA ini nanti akan lebih mampu mengungkap fakta alam semesta semakin luas. Wallahua’lam!

Penciptaan Langit dan bumi:
Allah berfirman:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (٥٤)
Artinya: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam”. (QS: 07: 54);
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأمْرَ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (٣)
Artinya: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”. (QS: 10: 3);
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَلَئِنْ قُلْتَ إِنَّكُمْ مَبْعُوثُونَ مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِينٌ (٧)
Artinya: “dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Makkah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. (QS: 11: 7);
الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا (٥٩)
Artinya: “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) yang Maha pemurah, maka tanyakanlah tentang Dia (Allah) kepada yang lebih mengetahui tentang Dia”. (QS: 25: 59);
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ (٣٨)
Artinya: “dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan”. (QS: 50: 38);
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (٤)
Artinya: “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya, dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS: 57: 4);
Enam ayat dari enam surah yang berbeda di atas (al-A’raf, Yunus, Huud, al-Furqan, Qaaf dan al-Hadiid), meskipun semuanya turun sebagai informasi sains yang sangat penting kepada nabi Muhammad SAW dan umat Islam pada masa-masa penurunan wahyu ke dunia, tetapi peristiwa-peristiwa yang diceritakannya seperti:
Penciptaan langit
Penciptaan Bumi dan Fasilitasnya dalam enam masa;
Tujuh susun Langit;
‘Arasy Allah sebelum proyek pencitaan langit dan bumi.
Semua kejadian itu telah terjadi pada jutaan bahkan miliyaran tahun yang lalu, yaitu sebelum adanya sesuatu yang dapat disebut, kecuali hanya singgasana Allah di atas air (Lihat: QS: 11: 7), lalu Allah SWT menciptakan langit dan bumi, sebagaimana pada konteks ayat-ayat kajian di atas. Maka untuk memahami intisari ayat-ayat kajian di atas, penulis berusaha mengkajinya berdasarkan pada poin-poin penting yang telah direkap di atas, sebagai berikut:
Penciptaan Langit:
Allah berfirman:
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ
Artinya: “menciptakan langit”;
As-samaa (langit), dalam bahasa Arab adalah atas atau sesuatu yang tinggi, sedangkan menurut bahasa sains-nya adalah bagian atas dari permukaan bumi, dan digolongkan sebagai lapisan tersendiri yang disebut atmosfer. Langit terdiri dari banyak gas dan udara, dengan komposisi berbeda di tiap lapisannya. Langit sering dilihat berwarna biru, disebabkan karena pemantulan cahaya, tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa langit bisa berwarna selain itu, misalnya merah ketika senja, atau hitam saat turun hujan.

Kata “samaa” (langit) di dalam Al-Quran di ulang sebanyak 310 kali, diantaranya bentuk single “samaa” 120 kali, dan bentuk plural “samaawaat” 190 kali. Bentuk plural umumnya menunjukkan semua yang ada di atas bumi di jagad raya, dalam bentuk single 38 diantaranya dipahami sebagai lapisan udara (atmosfer) dan medan magnet yang disebut (magnetosfert) yang melindung permukaan Bumi dari angin matahari, sinar ultraungu, dan radiasi dari luar angkasa.

Sedangkan yang 82 diantaranya bentuk single dipahami sebagai jagad raya secara keseluruhan. Namun sebelum lebih lanjut membicarakan proyek penciptaan langit ini, mulai dari awalnya hanya satu langit saja lalu Allah SWT mempetakannya menjadi tujuh bagian langit yang terpisah dan bersusun-susun satu sama lain, sebagaimana akan kita kaji nanti pada waktunya dalam tema kita ini. Dan mengingat pembahasan langit tersebut amat luas sekali, maka penulis ingin mengkaji bumi kita terlebih dahulu karena dari bumi-lah kita bisa mengetahui adanya langit-langit itu nanti, Insya Alla SWT.


Kelahiran Bayi Bumi:

Bumi adalah planet ketiga dari delapan planet dalam tata surya, bayi bumi diperkirakan lahir sekitar 4,6 milyar tahun lalu, dengan diameter sepanjang 12.756 KM, grafitasinya diukur sebagai 10 N kg-1 dijadikan unit ukuran grafitasi planet lain dengan grafitasi bumi dipatok sebagai 1. Ia mempunyai massa seberat kira-kira 6.000 milyar ton, dengan luas permukaan 510 juta kilometer persegi, di antaranya daratan kering sekita 148.000.000 Km2 dan luas wilayah perairan 362.000.000 Km2. Atau sebanyak 70,8% permukaan bumi diliputi air, sisanya 20,2 % adalah daratan. Udara bumi terdiri dari 78% nitrogen, 21% oksigen, dan 1% uap air, karbondioksida, dan gas lain.

Berat jenis bumi (sekitar 5.500 kilogram per meter kubik) digunakan sebagai unit perbandingan berat jenis planet yang lain, dengan berat jenis bumi dipatok sebagai 1. Bumi diperkirakan tersusun atas inti dalam bumi yang terdiri dari besi nikel beku setebal 1.370 kilometer dengan suhu 4.500°C, diselimuti pula oleh inti luar yang bersifat cair setebal 2.100 kilometer, lalu diselimuti pula oleh mantel silika setebal 2.800 kilometer membentuk 83% isi bumi, dan terakhir sekali diselimuti oleh kerak bumi setebal kurang lebih 85 kilometer.


Kerak bumi lebih tipis di dasar laut yaitu sekitar 5 kilometer, terbagi kepada beberapa bagian dan bergerak melalui pergerakan tektonik lempeng (teori Continental Drift) yang menghasilkan gempa bumi. Titik tertinggi di permukaan bumi adalah Gunung Everest setinggi 8.848 meter, dan titik terdalam adalah Palung Mariana di Samuder Pasifik dengan kedalaman 10.924 meter. Danau terdalam adalah Danau Titicaca, dan laut terbesar adalah Laut Kaspia.

Bumi terletak pada jarak 149.6 juta kilometer atau 1 AU (Astronomical Unit) dari matahari (pusat tata surya); yang berada pada bagian lengan galaksi bima sakti; bagian dari grup lokal cluster; dari grup lokal supercluster, semuanya terhimpun dalam jagad raya (universe). Atau langit pertama dari tujuh susun langit.
Mega Proyek Pembangunan Langit dan Bumi Dalam Enam Masa:
Allah berfirman:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (٥٤)
Artinya: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam”. (QS: 07: 54);
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأمْرَ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (٣)
Artinya: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”. (QS: 10: 3);
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَلَئِنْ قُلْتَ إِنَّكُمْ مَبْعُوثُونَ مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِينٌ (٧)
Artinya: “dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Makkah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. (QS: 11: 7);
الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا (٥٩)
Artinya: “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) yang Maha pemurah, maka tanyakanlah tentang Dia (Allah) kepada yang lebih mengetahui tentang Dia”. (QS: 25: 59);
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ (٣٨)
Artinya: “dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan”. (QS: 50: 38);
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (٤)
Artinya: “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya, dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS: 57: 4);

Proses penciptaan langit dan bumi dalam 6 masa disebutkan di dalam al-Quran pada 6 ayat yang terpisah dari 6 surah yang berbeda-beda di atas (al-A’raf, Yunus, Huud, al-Furqan, Qaaf dan al-Hadiid), dan ayat-ayat inilah disebutkan sebagai kelompok ayat-ayat al-Quran yang tertua di dalam “Hard Disk” (penyimpanan) “file supercomputer” Lauhil Mahfudz. Maka jika ketepatan angka 6 ini menunjukkan kepada sesuatu, pastilah itu bagian dari kemukjizatan al-Quran, yang hanya Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui rahasia persisnya. Adapun kita maka dengan perjalanan waktu dan perkembangan sains yang semakin maju sekarang, kita akan mengungkap rahasia itu sedikit demi sedikit, insya Allah.

Sebelum menjelaskan mega proyek penciptaan 6 masa tersebut, penulis ingin mengemukakan terlebih dahulu sebuah isyarat penting yang terdapat pada salah satu ayat tertua di atas, bahkan yang tertua dari semuanya yaitu ayat pada surah Huud (Lihat: QS: 11: 7), dari 6 ayat yang telah disebutkan semuanya menjelaskan bahwa setelah proses penciptaan, maka Allah bersemayam di atas ‘Arasy: “kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy”, kecuali ayat dari surah Huud ini dan surah Qaaf (QS: 50: 38).

Namun yang menarik perhatian dari ayat surah Huud di atas, yaitu adanya mengisahkan kondisi tertentu yang fenomenal sebelum terjadinya proses penciptaan 6 masa itu, Allah berfirman: “dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air”. Maka penulis menyimpulkan bahwa ayat inilah merupakan yang tertua dalam “file Lauhil Mahfudz”, karena peristiwanya terjadi sebelum terjadi segala proses penciptaan, kecuali hanya ada Allah dan singgasana-Nya yang berada di atas air, seperti yang dikisahkan ayat ini. Wallahua'lam!

Mengenai proses penciptaan langit dan bumi dalam 6 masa yang telah dikisahkan pada 6 ayat kajian di atas, telah diuraikan secara rinci pada ayat ke-9 sampai ke-12 dari surah “Fusshilat”, Allah berfirman:
قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الأرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ (٩) وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ (١٠) ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلأرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ (١١) فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (١٢)
Artinya: “Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam”; dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya, Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya; Kemudian Dia menuju ke langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa”. keduanya menjawab: “Kami datang dengan patuh”; Maka Dia mempetakannya tujuh langit dalam dua masa, Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit fungsinya. Dan Kami hiasi langit yang dekat (dunia) dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya.” (QS: 41: 10-12);
Yaitu; enam masa diperincikan kepada dua bagian: Pertama, penciptaan bumi dalam dua masa; dan kedua, menciptakan gunung-gunung, memberkati bumi dan menfasilitasinya dalam empat masa:
PERTAMA; Menciptakan Bumi Dalam Dua Masa:
Allah berfirman:
خَلَقَ الأرْضَ فِي يَوْمَيْنِ
Artinya: “menciptakan bumi dalam dua masa” (QS: 41: 9-10);
Subhanallah! Adalah kemukjizatan al-Quran ini bahwa tidak ada satu ayatnya pun yang mengisahkan suatu peristiwa penting kecuali telah dijelaskan pada ayat-ayanya yang lain, maka peristiwa mega proyek penciptaan bumi ini telah dijelaskan dengan tuntas pada ayat ke-30 dari surah al-Anbiyaa, Allah berfirman:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ (٣٠)
Artinya: “dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapakah mereka tiada juga beriman? ” (QS: 21: 30);
Kata-kata kunci dari Ayat ini adalah:
Arratqu (menyatu): Menjadikan satu, bergabung, berkumpul.
Alfatqu (berpisah): Kebalikan dari “Arratqu” (menyatu) di atas, yaitu memisahkan antara dua sesuatu yang telah menyatu padu – terbelah.
Fafataqnaahumaa: Yaitu Kami pisahkan antara keduanya (langit dan bumi).
Ibnu Abbas ra menafsirkan: Sebelumnya menyatu lalu Allah mengangkat langit dan meletakan bumi. Sedangkan Hassan dan Qatadah menafsirkan: Dahulu berkumpul lalu Allah memisahkan keduanya.

Jika kita mengamati rentetan peristiwa pada penciptaan langit dan bumi di atas, maka kita akan menemukan proses menyatu kemudian disusul pemisahan, seperti tersirat pada makna dua kalimat di bawah:
Ratqun (menyatu) –----Fatqun (berpisah)
Akan tetapi proses “Ratqun” (menyatu) ini tidak terjadi kecuali antara dua benda yang terpisah, yaitu mengumpulkan yang telah terpisah dari dua sesuatu setelah sebelumnya bersatu. Sedangkan kata “Fatqun” (berpisah), mengisyaratkan pada terpisahnya dua sesuatu yang telah bersatu setelah sebelumnya terpisah. Dengan demikian, terpisah dahulu baru kemudian menyatu. Atau sederhananya seperti berikut:
Terpisah --- menyatu --- terpisah, (dan kemungkinan akan disusul penyatuan kembali di hari kiamat (kita akan menjelaskan juga nanti pada waktunya), insya Allah).
Ayat di atas secara keseluruhannya dan kandungan umum maknanya, menginspirasikan keidentikan yang sangat kuat antara langit dan bumi, dan kedekatan keduanya, serta keduanya merupakan bagian-bagian dari satu sistem (kelompok) yang sama, atau lahir bersamaan.

Ini adalah ungkapan Al-Qur’an - yang tidak ada keraguan di dalamnya - tentang penciptaan langit dan bumi, dia bersatu kemudian dipisahkan. Dari manakah diciptakan? Tentu dari air karena dari airlah dijadikan segala sesuatu hidup (Lihat: QS: 11: 7), lalu dipisahkan dari "awan", (Lihat: QS: 9-12) di atas.

Penjelasan dari surah Fusshilat di atas mengkonfirmasikan kepada sains modern bahwa asli bumi yang kita huni ini adalah dari bagian langit, yang pada awalnya masih berupa gumpalan awan raksasa kemudian dipisahkan oleh yang Maha Arsitek Allah SWT menjadi bagian bumi dalam proses dua masa, sisa dari awan raksasa tersebut dipetakan lagi oleh Allah SWT menjadi 7 bagian langit yang bersusun-susun satu sama lain, salah satunya adalah yang menjadi bagian jagat raya (universe) yang menaungi kelompok bumi kita, terdiri dari tata surya (tempat bumi beredar); milyaran galaksi; milyaran supergalaksi; dan masih jauh lebih banyak lagi yang belum dapat terdeteksi oleh super teleskop digital yang ada sekarang. Kita masih akan kembali menjelaskan keterangan ini pada waktunya nanti dalam tema penciptaan 6 masa ini juga, insya Allah.

Fakta Sains Tentang Kejadian Langit dan Bumi:

Penjelasan ayat al-Quran tentang fenomena "ratqun" (penyatuan) dan "fatqun" (pemisahan), yang sudah dikumandangkan dari semenjak 14 abad lalu itu, ternyata baru di amini (didukung) kemudian oleh sains modern pada pertengahan akhir dari abad ke-20 lalu. Jika anda bertanya sekarang: Teori apakah yang paling popular dikalangan para ilmuan terutama bidang astronomi saat kini, tentang proses terbentuknya “Milky Way” (galaksi bima sakti)? Jawabannya pasti adalah “Teori Nubela” (awan), yang menjelaskan cikal-bakal terbentuknya planet-planet dan matahari adalah nebula, atau bola raksasa dan amat luas terdiri dari materi-materi keras seperti besi, logam dan cadar, dan materi-materi cair seperti air dan bahan-bahan gas seperti hydrogen dan amunia, serta partikel-partikel debu, atau "awan". Aslinya adalah satu kemudian terpisah menjadi gumpalan-gumpalan membentuk matahari dan planet-planet yang mengelilinginya. Maka apakah orang-orang kafir itu belum mau beriman?


Awal Empat Masa Penciptaan Tahap Kedua:

Bumi pada awal penciptaannya dalam dua masa dari tahap pertama penciptaan langit dan bumi sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, masih berbentuk bola api yang menyala-nyala, sangat panas dari berbagai unsur yang bercampur aduk akibat pelepasan yang kuat (alfatqu), terjadi pada awal pemisahannya dari bagian yang satu padu (arratqu) dengan langit yang masih berupa awan kala itu. Lalu sejalan dengan semakin berkurangnya pengaruh pemisahan keras terebut, dan mulai terbentuk planet-planet lain bersamanya pada kelompok tata surya, maka mulailah panas bumi itu berkurang sedikit demi sedikit.


Selanjutnya permukaan bumi secara perlahan-lahan menjadi dingin akibat berbagai faktor pendukung dari luar, meskipun bagian perut bumi mendidih dan berlimpah dari materi-materi yang selalu membara, yang sewaktu-waktu bumi meluapkannya keluar ke permukaannya dalam bentuk vulkanik (gunung berapi). Oleh karena permukaan bumi masih menyerupai cairan sehingga tidak kuat membendung tumpukan besar dari luapan lahar panas dari letutusan gunung berapi tersebut, sehingga masuk lagi ke dalam perut bumi.

Namun berkat pancaran cahaya panas yang menerpa permukaan bumi secara berkala sehingga permukaannya tersebut perlahan-lahan menjadi dingin, yang pada gilirannya mengeras terbentuklah kerak bumi, akan tetapi kerak bumi yang baru mengeras itu masih relatif tipis. Lalu dengan perjalanan waktu kerak bumi semakin bertambah tebal, sehingga telah mencapai berpuluh-puluh kilometer sampai sekarang.

Jika ukuran ketebalan kerak itu dibandingkan dengan separuh dari skala bumi yang mencapai 6400 kilometer, kita akan mendapatkan bahwa kerak yang ada itu amatlah tipis. Kalau saja seandainya Allah SWT tidak meletakkan gunung-gunung yang ditancapkan pada lumpur bumi yang menyerupai cairan itu sebagai pasak, maka pastilah kerak itu senantiasa mengalami kelongsoran, maka Maha benar Allah dalam firma-Nya: “dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu” (QS: 31: 10).

Berdasarkan fakta sains ini, maka kini kita dapat memahami maksud dari pada tahapan dua masa penciptaan bumi; “menciptakan bumi dalam dua masa”; yaitu ayat kajian sebelumnya. Maka masa yang telah dilewati bumi dari semenjak berupa asap, sampai berada pada posisinya beredar mengelilingi matahari dalam bentuk bola; mempunyai permukaan meleleh laksana cairan pada permulaan diciptakannya oleh Allah sebagai bayi bumi.

Oleh karena itu, sungguh fenomenal sekali ketika Allah SWT menutup tahap penciptaan bumi dua masa pertama dan memulai penciptaan empat masa tahap selanjutnya, maka Allah telah menyempurnakan sarana prasarana bumi untuk siap menjadi hunian bagi makhluk hidup di atas permukaannya, maka fasilitas pertama yang disiapkan padanya adalah gunung-gunung. Dan inilah yang akan kita kaji sekarang pada bagian kedua ini.
KEDUA; Menciptakan Gunung-gunung dan Menfasilitasi Bumi Dalam Empat Masa:
Allah berfirman:
وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ
Artinya: “dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya, Dia memberkahinya dan Dia menentukan fasilitas (daya huni)nya dalam empat masa” (QS: 41: 10);
Pada proses penciptaan tahap kedua dalam empat masa ini, al-Quran menguraikannya dalam tiga hal utama: Perama, Allah meletakkan gunung-gunung di atas bumi; kedua, memberkatinya; dan ketiga, menentukan fasilitas pendukung dan mengukur kemampuan huninya, dapat diuraikan sebagai berikut:
Keagungan dan Fungsi Gunung-gunung Di Atas Bumi:
Allah berfirman:
وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا
Artinya: “dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya”;
Kalimat gunung disebutkan secara langsung di dalam al-Quran sebanyak 39 kali, adapun penyebutannya secara tidak langsung lebih dari pada jumlah itu, dan semua penyebutan gunung-gunung tersebut umumnya menunjukkan keagungan ciptaan gunung itu sendiri, dan urgensi dari fungsi-fungsinya dalam menopang stabilitas peredaran bumi di jagat raya, serta ketergantungan makhluk-makhluk penghuni bumi termasuk manusia di dalamnya.

Di antara ayat-ayat yang menyebutkan gunung di dalam al-Quran, yang juga merupakan kelompok ayat-ayat tertua, masuk di bawah bagian ayat-ayat penciptaan langit dan bumi yang telah disebutkan pada serial ini sebelumnya, sebagai tahap awal dari empat masa penciptaan periode kedua, dan sekaligus ayat-ayat berikut menjelaskan keaguangan dan fungsi-fungsi utama gunung tersebut. Allah berfirman:
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلالا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ كَذَلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ (٨١)
Artinya: “dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (QS: 16: 81)
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ (١٨)
Artinya: “Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya, dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS: 22: 18)
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالأبْصَارِ (٤٣)
Artinya: “tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (QS: 24: 43)
وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ (٨٨)
Artinya: “dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS: 27: 88)
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ (٢٧)
Artinya: “tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya, dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.” (QS: 35: 27);
وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا (٧)
Artinya: “dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS: 78: 7)
وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا (٣٢)
Artinya: “dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh” (QS: 79: 32)
وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (١٩)
Artinya: “dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?” (QS: 88: 19);
Yaitu; delapan ayat yang terpisah-pisah dari 8 surah al-Quran yang berbeda-beda di atas, secara pasti dan tegas Allah SWT menjelaskan keagungan dan fungsi-fungsi gunung untuk mendukung kestabilan peredaran bumi di jagat raya nan luas ini adalah:
Tempat tinggal yang kokoh dan aman bagi manusia: “dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung” (QS: 16: 81);
Bersujud menyembah kepada Allah seperti juga ciptaan-ciptaan lainnya yang ada di langit dan di bumi, serta yang ada di antara keduanya: “bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia” (QS: 22: 18);
Menampung dan mengeluarkan air untuk kehidupan makhluk-makhluk lain dari dalamnya: “dan Allah menurunkan butiran-butiran air sejuk (es) dari langit, dari gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS: 24: 43);
Gunung-gunung beredar memperkokoh bumi (QS: 27: 88);
Membuat indah dan cantik permukaan bumi (QS: 35: 27);
Menjadi pasak dan pancang bagi bumi sehingga menjadi kokoh (QS: 78: 7); (QS: 79: 32); dan (QS: 88: 19).

Tanpa Gunung-gunung Bumi Akan Kiamat:
Dari keterangan ayat-ayat gunung yang muhkam dan sangat jelas petunjuknya di atas, dimana tidak membutuhkan penjelasan lain untuk memahami maknanya, nampak sekali bahwa gunung-gunung yang dipancangkan Allah SWT di atas permukaan bumi pada awal penciptaan langit dan bumi dalam enam masa itu, mempunyai peranan besar dalam menopang dan memperkokoh kekuatan bumi. Agar planet kecil ini terus beredar dengan se-stabil mungkin; tidak miring; tidak keluar dari garis edarannya di pusat tata surya; dan tidak bergoyang-bergoyang secara liar, sehingga membahayakan bagi bumi itu sendiri dan menghancurkan segala kehidupan di atas permukaannya.

Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan bahwa tanpa adanya proses peletakan gunung-gunung di atas permukaan bumi pada awal-awal penciptaannya, maka ia akan hancur berantakan sebelum siap huni, sebagaimana juga al-Quran telah menegaskan – semenjak lebih dari 14 abad lalu – bahwa akhir dari pada pejalanan bumi (runtuh) pada hari kiamat kelak, akan ditandai dengan revolusi gunung besar-besaran. Ayat-ayat tentang revolusi gunung-gunung akan kita kaji nanti pada kelompok ayat-ayat urutan terakhir versi dokumen supercomputer “Lauhil Mahfudz”.

Namun untuk menguatkan tesis ini, dan menegaskan pentingnya gunung-gunung yang terpancang itu di dalam keberlangsungan planet bumi ini, maka penulis akan mengutip dengan sepintas lalu beberapa ayat di antaranya, yang mengisahkan akhir perjalanan planet bumi yang tragis setelah terjadi revolusi dahsyat gunung-gunung tersebut.

Al-Quran sebagai mukjizat terbesar alam semesta, disamping telah mengisahkan proses-proses penciptaan langit dan bumi, seperti yang kita kaji sekarang ini, ia juga memberitakan peristiwa-peristiwa dramatis yang akan mengakhiri perjalanan alam semesta dan memusnahkan segala kehidupan di dalamnya, seperti peristiwa yang akan terjadi tentang revolusi dahsyat gunung-gunung di permukaan bumi, yang akan berakhir dengan kiamat besar.

Gunung-gunung sebagai salah satu makhluk super raksasa yang telah diciptakan Allah SWT, dengan penampilannya yang kokoh dan kuat seakan-akan tidak bisa beranjak dari tempatnya itu, tetapi ternyata menjelang kiamat kelak mereka akan berevolusi besar-besaran dengan “long marche” (berjalan) meninggalkan tempatnya masing-masing, hanya Allah yang mngetahui kemana arah tujuannya, seperti firman Allah:
Artinya: “Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu rata” (QS: 18: 47);
Artinya: “dan gunung benar-benar berjalan” (QS: 52: 10);
Artinya: “dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia” (QS: 78: 20).
Kemudian bumi dan gunung diangkat lalu dibenturkan keduanya sekali benturan dahsyat. (Lihat: QS: 69: 14); lalu peristiwa selanjutnya gunung-gunung itu dihancurkan sehancur-hancurnya sehingga rata dengan tanah (Lihat: QS: 20: 105-107); Dan gunung-gunung itu beterbangan seperti bulu di atas udara (Lihat: QS: 70: 9 dan 101: 5); atau menjadi tumpukan pasir yang beterbangan ditiup angin (Lihat: QS: 73: 14). Dan lain sebagainya dari keadaan-keadaan gunung pada hari kiamat nanti.


Berkah Allah:

Kalimat “baaraka” (memberkahi) pada ayat kajian; dari kata dasar bahasa Arab “al-barakatu” (berkah atau kebaikan), yaitu tercurahnya kebaikan Allah pada sesuatu berupa pertumbuhan dan perkembangannya tanpa ada sebab tertentu yang diperhitungkan. Dan orang Arab juga sering menyebutkan “al-mubarak” (melimpahkan kebaikan), yaitu tersalur kebaikan Allah padanya. Maka sering kali kebaikan Allah itu timbul dari sisi-sisi yang tidak dirasakan, dan dalam bentuk yang tidak terduga serta tidak diusahakan.

Oleh karena itu sering dikatakan bahwa segala sesuatu yang kita saksikan selalu bertambah tanpa terasa maka itu adalah berkah, dan padanya terdapat keberkahan. Maka jika dikatakan “baaraka” (memberkahi) seperti pada konteks ayat kajian di atas, berarti Dia memberikan kebaikan tanpa diminta, misalanya dalam ungkapan sehari-hari yang kita sering ucapkan: Allah memberkahi kamu, Dia memberkahi padamu, Dia memberkahi atasmu dan Dia memberkahimu; yaitu Dia memberikan kebaikan-Nya kepadamu.

Lipahan Berkah dan Kebaikan Allah Yang Menyeluruh Di Bumi:
Allah berfirman:
وَبَارَكَ فِيهَا
Artinya: “Dia memberkahinya” (QS: 41: 10);
Al-Quran banyak sekali memaparkan tentang berkah dan kebaikan-kebaikan Allah di bumi yang tidak dirasakan oleh manusia, tetapi itu sangat penting untuk kelestarian bumi dan keberlangsungan hidup makhluk-makhluk termasuk manusia di atasnya, seperti:
PEREDARAN BUMI PADA POROSNYA:
Ayat-ayat al-Quran yang menegaskan karakter peredaran bumi pada porosnya ini banyak sekali dalam berbagai macam redaksinya yang berbeda-beda. Oleh karena Pengetahuan Allah menyeluruh tanpa batas, maka Dia tidak menyebutkan istilah- istilah seperti; bumi bundar, berputar pada porosnya, beredar mengelilingi matahari dan lain sebagainya secara langsung. Karena hal-hal seperti itu tidak lumrah dan pasti akan ditolak oleh akal sederhana orang Arab pada masa-masa penurunan wahyu saat itu, dimana akan berdampak buruk terhadap dakwah Islam pada tahap permulaannya.

Kita tidak usah terlalu jauh melihat kebelakang, pada abad-abad pertengahan lalu saja pihak gereja Yunani banyak sekali menyiksa bahkan membunuh para ilmuan-ilmuan mereka seperti Galileo, Copernicus dan lain sebagainya itu karena pendapat mereka bertentangan dengan gereja pada saat itu, mengatakan bahwa: “Bumi ini bukanlah pusat dari alam semesta tetapi hanya merupakan sebuah planet kecil dari milyaran benda-benda langit lainnya yang beredar mengelilingi sebuah sistem yang lebih besar...”

Maka – atas ilmu-Nya – Allah menggantikan penyebutan-penyebutan tersebut dengan istilah- istilah indah yang sangat logis, untuk memberikan kesempatan kepada mereka membuka nalar dan mempergunakan akal sehatnya memikirkan ciptaan-ciptaan Allah yang nampak pada fenomena-fenomena yang dapat dilihat dan dirasakannya, dengan demikian dakwah baru Islam akan mudah meresap ke dalam sanubari mereka.


Kelompok ayat-ayat yang akan disebutkan di sini secara otomatis langsung diurutkan di bawah kelompok ayat-ayat “penciptaan langit dan bumi” sebelumnya, sebagai kelompok ayat-ayat al-Quran tertua dalam kajian kita ini. Dan jika ada tema-tema tertentu dari ayat-ayat yang telah disebutkan berulang lagi di sini, maka tema-temanya akan dikaji tanpa harus menuliskan lagi ayat-ayatnya secara utuh, tetapi cukup menyebutkan nomor surah dan ayatnya saja, demi menghindari terlalu banyak pengulangan. Adapun istilah- istilah al-Quran yang mengisyaratkan peredaran bumi pada porosnya, sebagai berikut:
Silih Bergantinya Malam dan Siang:
Allah Berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (١٦٤)
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS: 02: 164);
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ (١٩٠)
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS: 03: 190);
إِنَّ فِي اخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ (٦)
Artinya: “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa.” (QS: 10: 6);
وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلا تَعْقِلُونَ (٨٠)
Artinya: “dan Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia-lah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS: 23: 80);
وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (٥)
Artinya: “dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (QS: 45: 5).
Masih dalam konteks pergantian malam dan siang tetapi dalam redaksi lain, Allah berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا (٦٢)
Artinya: “dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS: 25: 62);
وَاللَّيْلِ إِذْ أَدْبَرَ (٣٣) وَالصُّبْحِ إِذَا أَسْفَرَ (٣٤)
Artinya: “dan malam ketika telah berlalu; dan subuh apabila mulai terang.” (QS: 74: 33-34);
وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ (١٧) وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ (١٨)
Artinya: “demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya; dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing,” (QS: 81: 17-18).
Membalikkan Malam dan Siang:
Allah Berfirman:
يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لأولِي الأبْصَارِ (٤٤)
Artinya: “Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” (QS: 24: 44);
Memasukkan Malam Ke Dalam Siang:
Allah Berfirman:
تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (٢٧)
Artinya: “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup, dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)” (QS: 03: 27);
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (٦١)
Artinya: “yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan bahwasanya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS: 22: 61);
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَأَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (٢٩)
Artinya: “tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS: 31: 29);
يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ (١٣)
Artinya: “Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. yang (berbuat) demikian Itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan, dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (QS: 35: 13);
يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَهُوَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (٦)
Artinya: “Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, dan Dia Maha mengetahui segala isi hati.” (QS: 57: 6).
Yaitu; Allah SWT memasukkan separuh belahan bumi yang diselimuti oleh gelap malam secara pelan-pelan ke dalam posisi belahan lain yang disingkap oleh siang dan sebaliknya, hal ini menunjukkan – secara tidak langsung – bahwasanya bumi itu bulat dan beredar pada porosnya mengelilingi matahari, namun isyarat ini disampaikan al-Quran dengan sangat akurat, sempurna dan meliputi segala arti definisi yang susah di bayangkan oleh ahli sastra manapun.
Menanggalkan Siang Dari Malam:
Allah Berfirman:
وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ (٣٧)
Artinya: “dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.” (QS: 36: 37);
Maksud ayat ini bahwasanya Allah SWT menanggalkan cahaya siang dari bagian-bagian permukaan bumi yang ditutupi oleh malam secara teratur, sebagaimana menanggalkan kulit binatang sembelihan dari seluruh badannya secara perlahan-lahan, dan hal itu tidak akan terjadi kecuali bahwa bumi ini beredar pada porosnya mengelilingi matahari.

Ayat ini sekaligus mengisyaratkan betapa tipisnya lapisan siang pada separuh bagian permukaan bumi yang menghadap ke matahari, yaitu sebuah kenyataan faktual yang tidak dicapai oleh sains modern kecuali setelah revolusi observasi ke angkasa luar pada pertengahan kedua dari abad ke-20 lalu.

Dimana dipastikan secara ilmiah bahwa durasi ketebalan lapisan siang disekitar bumi tidaklah mencapai 200 kilometer di atas permukaan laut, jika hal itu dibandingkan dengan jarak yang memisahkan antara kita dan matahari, yang membentang sekitar 150.000.000 Km, maka tingkat ketebalan yang ada itu tidak mencapai – sekitar – (1 : 750.000).

Lalu jika dibandingkan lagi kepada separuh permukaan dari bagian yang terjangkau dari jagat raya kita, yang diperkirakan melampaui dari 10.000.000.000 (10 ribu juta) ukuran tahun cahaya, 9.5 juta juta kilometer, maka semakin jelas kadar ketipisan lapisan siang itu. Dan dari redaksi ayat mukjizat ini juga, yang mengibaratkan lapisan siang yang tipis itu dibandingkan lapisan gelap malam, dengan istilah “menanggalkan” atau melucuti.

Seperti melucuti kulit binatang sembelihan dari seluruh badannya, hal ini menegaskan bahwasanya kegelapanlah yang merupakan inti dari pada alam semesta, dan cahaya siang yang amat tipis itu hanyalah secercah garis yang melintas saja, yang tidak akan nampak kecuali hanya pada lapisan bawah dunia dari lapisan-lapisan atmosfer bumi di sebagian permukaannya yang menghadap ke matahari.
Malam dan Siang beredar;

Allah Berfirman:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (٣٣)

Artinya: “dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS: 21: 33);

لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (٤٠)

Artinya: “tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS: 36: 40);

Menutupkan Malam Kepada Siang:

Ayat tentang “menutupkan malam kepada siang” disebutkan dua kali di dalam al-Quran dan dua-duanya sudah kita masukkan pada kelompok ayat-ayat “Penciptaan Langit dan Bumi Dalam Enam Masa” (Lihat: QS: 07: 54); dan kelompok ayat-ayat “Penciptaan Gunung-gunung di Permukaan Bumi” setelahnya langsung (Lihat: QS: 13: 3).



Namun selain itu ada juga ayat-ayat lain yang senada dengan itu, seperti siang menampakkan matahari dan malam menutupinya, Allah berfirman:
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا (١) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاهَا (٢) وَالنَّهَارِ إِذَا جَلاهَا (٣) وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا (٤)

Artinya: “demi matahari dan cahayanya di pagi hari; dan bulan apabila mengiringinya; dan siang apabila menampakkannya; dan malam apabila menutupinya” (QS: 91: 1-4);

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى (١) وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى (٢)

Artinya: “demi malam apabila menutupi (cahaya siang); dan siang apabila terang benderang,” (QS: 92: 1-2);
Maka dengan demikian, semakin jelas maksud dari pada "menutupkan malam kepada siang", bahwasanya Allah SWT menyelimutkan dengan kegelapan malam pada posisi cahaya siang di sebagian permukaan bumi secara bertahap sehingga menjadi malam, dan sebaliknya menutupkan dengan cahaya siang pada posisi kegelapan malam di sebagian permukaan bumi yang lain sehingga menjadi siang.

Yaitu merupaka sebuah isyarat halus yang menunjukkan bahwa bumi yang kita diami ini berbentuk bulat, dan beredar pada porosnya mengelilingi matahari dalam sekali putaran 24 jam, berbagi - perbedaan tipis - antara malam dan siang. Silih berganti secara berkala menunjukkan kekuasaan mutalak Allah Yang Maha Pencipta, seandainya bumi tidak bulat maka ia tidak bisa beredar mengelilingi porosnya, dan jika tidak beredar pada porosnya mengelilingi matahari, maka tidak akan terjadi malam dan siang.


Al-Quran pada banyak tempat di dalam ayat-ayatnya mempergunakan penyebutan malam dan siang sebagai initial yang mengisyaratkan kepada planet bumi, sebagaimana juga mengisyaratkan kepada setiap dari malam dan siang secara bergantian. Dan kepada berbagai fenomena-fenomena yang menyertai keduanya, seperti firman Allah yang telah di sebutkan juga di atas (Lihat: QS: 91: 1-4).


Pada ayat ke 1-4 dari surah as-Syams ini Allah bersumpah: Demi siang yang menampakkan matahari, yaitu menyingkapkannya dengan terang sekali kepada penghuni bumi, kenyataan itu tidak diketahui oleh sains modern kecuali setelah era observasi ke luar angkasa pada paruh kedua abad ke-20 lalu, ketika para ilmuan mengungkapkan bahwasanya cahaya siang itu tidak mencapai ketebalannya 200 Km di atas permukaan laut di separuh bagian permukaan bumi yang menghadap ke matahari.


Dimana sabuk tipis itu dari lapisan-lapisan gas bumi bebas dari berbagai pencemaran, dan ketebalannya itu semakin berkurang setiap bertambah ketinggiannya di atas permukaan bumi, sebaliknya ketebalannya semakin bertambah dan menyerap setiap dari uap dan partikel-partikel debu yang beterbangan setiap mendekat dari permukaan bumi.

Konsentrasi itu dan ditambah oleh partikel-partikel debu tersebut, membantu memancarkan sinar matahari, dan pantulannya itu senantiasa berulang berkali-kali, sehingga tampak kepada kita berwarna putih cemerlang yang mengeksplor siang menjadi fenomena bercahaya, yang memecahkan media bawah dari lapisan gas bumi pada separuh bagiannya yang menghadap ke matahari.

Sedangkan kegelapan menyelimuti cosmos yang terjangkau pada mayoritas bagian-bagiannya, dan nampak matahari setelah melewati sinar cahaya siang sebagai bola biru pada media hitam. Maka dari sini kita mengetahui maksud dari “siang menampakkan matahari”, sedangkan orang-orang sampai kepada akhir abad ke-20 masih beranggapan bahwa mataharilah yang menampakkan siang, maka Maha suci Allah yang telah menjelaskan fakta alam semesta dari semenjak lebih 1400 tahun lalu, yang tidak dapat diungkapkan oleh sains kecuali setelah paruh kedua abad ke-20 lalu.

Demikian pula sumpah-sumpah Allah pada ayat (1-2) dari surah al-Lail yang telah disebutkan pula di atas: “demi malam apabila menutupi (cahaya siang); dan siang apabila terang benderang”; yaitu bersumpah demi malam (malam bumi) yang menutupi separuh permukaan bumi yang jauh dari matahari dengan kegelapan karena ia tidak menghadap ke matahari.

Dan Allah bersumpah demi siang (siang bumi) yang diterangi padanya matahari atas separuh permukaan bumi yang menghadap matahari, maka ia dipenuhi cahaya siang. Dan dengan silih berganti keduanya maka tercipta kehidupan di atas permukaan bumi, dan manusia bisa mengetahui perjalanan waktu dan tanggal peristiwa-peristiwa penting.

Maka berkat limpahan kebaikan Allah SWT kepada kita penduduk bumi, maka dipergantikan-Nya setiap dari malam dan siang, hal ini tercermin dari firman Allah SWT:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلا تَسْمَعُونَ (٧١) قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفَلا تُبْصِرُونَ (٧٢) وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٧٣)

Artinya: “Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”; Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”; dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS: 28: 71-73).

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا (١٠) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (١١)

Artinya: “dan Kami jadikan malam sebagai pakaian; dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,” (QS: 78: 10-11).
Post a Comment